Senin, 07 Februari 2011

MATINYA SI LAMPU MINYAK

MATINYA LAMPU UPLE’K / MINYAK

waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB, aku pun masih belum tertidur. teringat kembali sebuah tarikh/cerita yang mungkin mengganggu waktu tidurku. cerita itu memberi pengertian kepada aku bagaimana seharusnya pemimpin bersikap dan berbuat sesuai dengan amanahnya. cerita lengkapnya begini :

ketika itu pada zaman sahabat, yakni zaman sepeninggal Rasulullah Muhammad SAW,tahta kepemimpinan diserahkan pada Sahabat Abu Bakar Ash Siddiq. setelah zaman Abu Bakar Ash Shiddiq, tahta kepemimpinan dipegang oleh sahabat Umar Bin Khattab. lha peristiwa ini terjadi pada khalifah (kepemimpinan sayyidina Umar bin Khattab ra).

pada suatu malam, sang khalifah Umar bin Khattab masih berada di kantor pemerintahannya. dengan bercahayakan sebuah lampu minyak, sang khalifah memeriksa dokumen-dokumen negara. mempelajari kerumitan negara yang dipimpinnya. membuat solusi untuk masalah pejabatnya, dan banyak lagi yang dikerjakan beliau tatkala di kantor pemerintahan tersebut.

di tengah sang khalifah mengerjakan tugas di kantor pemerintahan, seketika itu datanglah seorang sahabat beliau untuk menemui sang khalifah. diketuklah pintu kantor tersebut oleh sahabat sang khalifah tadi. sayyidina umar pun mendengar suara ketukan dari pintu kantor. kemudian dibukakanlah pintu tersebut oleh sayyidina Umar.setelah dibukakanlah pintu tersebut, raja umar bertanya pada sahabat yang bertamu pada beliau, Wahai saudaraku, engkau datang kepadaku untuk urusan apa ? untuk urusan pribadi denganku atau urusan pemerintahan ?" tanya sayiidina Umar. kemudian sahabat tadi menjawab, "Wahai rajaku, aku datang kepada engkau untuk urusan pribadi bukan urusan pemerintahan". kemudian seketika itu, raja umar kembali ke ruang kantornya untuk meniup lampu minyak yang tadinya masih menyala. kemudian dipersilahkan tamu tersebut untuk masuk ke ruang kantor. setelah mereka berdua bercakap, kemudian sang tamu tadi bertanya kepada raja Umar, "Wahai rajaku mengapa engkau memadamkan lampu minyak, padahal kita berdua sedang berbicara untuk sebuah urusan, mengapa engkau berbuat seperti itu ?" tanya si sahabat yang bertamu tadi. kemudian raja pun menjawab, "Wahai saudaraku, lampu ini menggunakan minyak, dan minyak ini dibeli dari uang rakyat, posisi kita sekarang tidak berbicara untuk kepentingan pemerintahan, sungguh tidak bijaksana dan tidak amanah tatkala kita menggunakan uang rakyat yang tidak semestinya, itu termasuk perbuatan dholim, perbuatan menganiaya rakyat, sahabatku, jika engkau datang ke sini dengan tujuan untuk kepentingan rakyat dan pemerintahan pastilah aku akan tetap menyalakan lampu ini, memang beginilah kita seharusnya sebagai pemimpin yang harus dan wajib menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya, tahukah Engkau pemerintahan yang saya pimpin nantinya pasti dipertanggungjawabkan di akhirat kelak, sekecil apapun yang saya lakukan di sini pastilah dilihat oleh tuhan dan akan diadili di sana, kita semua tahu bahwasanya pemerintahan yang adil dan membawa amanah dengan sebaiknya itu secara otomatis rakyatnya akan tentram,, sebaliknya jika pemerintahan sewenang-wenang sudah pasti rakyat akan menderita, dan juga saya bukanlah seorang manusia yang tidak pernah mampu melawan tuhan, bahkan seluruh makhluk pun tidak bisa berkehendak untuk melawan tuhan, oleh sebab itu wahai sahabatku, baik-baiklah kita dalam menjalani kehidupan, sebab nanti semuanya akan dipertanggungjwabkan di akhirat." setelah mendengar pencerahan dari sang khalifah tadi, si sahabat yang bertamu merasa sangat kagum mempunyai seorang pemimpin yang berkualitas dan berkuantitas seperti itu... subhanallah... Maha Suci Allah Dengan Segala Kehendak-Nya.

dari peristiwa tersebut semoga aini dan kita semua dengan berusaha semaksimal mungkin bisa menjadi seorang manusia yang bisa amanah dalam segala hal. amien...